Doa dan KTP dari Air Bonik

Oleh: MATHEOS VIKTOR MESSAKH

Bapak ini tidak hanya memberikan KTP, tetapi juga mendoakan Paket VIKTORI.
Bapak ini tidak hanya memberikan KTP, tetapi juga mendoakan Paket VIKTORI.

Karena telah beberapa kali mengalami hal seperti ini dalam perjalanan saya mencari dukungan masyarakat kota Kupang, saya merasa perlu untuk membagikan hal seperti ini.

Siang tadi, Jumat 10 Juni 2016, saya dan teman-teman Relawan Viktori sedang berada di daerah yang disebut “Bonik” di perbatasan Kelurahan Batuplat dan Kelurahan Sikumana.

Saya bersama seorang relawan masuk ke rumah seorang warga. Kami disambut oleh seorang bapak. Setelah saya memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami, sang bapak berkata dengan tegas dan jelas:

“Kami sudah di pak X ” [ia menyebut salah seorang bakal calon walikota].
Itu tidak bisa diganggu gugat lagi.”

Saya terus mendengarkannya sambil sekali-sekali berkata: “o begitu e bapa?”

Ketika saya mendapat kesempatan berbicara lagi saya masih terus berusaha meyakinkannya untuk memberi kami KTP: “biar bapa su dengan pak X ju KTP untuk kotong saja. Ini bukan memilih tapi bapa dong dukung sa supaya kotong bisa maju. Kan bapa dong dari partai dan kotong dari independen?”

“Tidak bisa bapa, kalau su begitu, begitu sudah,” katanya sambil terus berbicara.

Selanjutnya ia menjelaskan kepada saya bahwa pak X yang ia sebutkan tentu punya kekurangan dan kelemahan tetapi ia telah berbuat banyak.

Saya mendengarkan saja, tanpa membantah sedikitpun. Lalu ia mulai masuk ke perlambangan dalam kitab Suci tentang Raja Salomo dan Daud yang mempunyai kelemahan tetapi diperkenankan Allah memimpin Israel.

Saya tetap mendengarkan. Saya paham benar metafora-metafora seperti ini, karena telah sering saya temui dalam beberapa bukan terakhir ini. Ia menutup ‘khotbah’nya dengan kesimpulan bahwa Allahlah yang berkenan mengangkat seseorang dan tak ada satu manusiapun yang bisa mencegah, dan bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan’.

Saya merasa ‘khotbah’nya sudah cukup jelas dan segera meresponnya begitu ia selesai bicara.

“Baik bapa, saya sudah mengerti maksud bapa, dan saya paham benar. Jadi dengan rendah hati saya mohon kalau boleh bapa berdoa untuk saya, sebab jika Tuhan berkenan, tidak ada yang bisa mencegah saya menjadi Walikota. Benar sekali kata bapa bahwa bukan kita, termasuk bapa, yang menentukan melainkan Tuhan yang menentukan. Karena itu, saya tidak minta KTP bapa, cukup doa dari bapa saja. Kalau boleh bapa berdoa untuk saya.”

“Baik, saya bersedia,” katanya tegas seakan tertantang oleh permintaan saya. “Tapi sebelumnya saya tanya dulu bapak ini siapa? Boleh disebutkan lagi nama bapak?”

“Saya Matheos Viktor Messakh”

Ia sedikit tersentak, lalu bertanya lagi: “Ada hubungan dengan mantan Camat Kupang Barat Benjamin Messakh?”

“Itu ayah saya, saya anak nomor dua,” jawab saya.

Wajahnya berubah dan tangannya mulai memegang tengkuknya, seperti ada yang perlu dipegang di sana. “Ah karmana ee…,” katanya nampak gelisah.

Saya melihat kegelisahannya dan berkata, “tidak apa-apa bapa, kalau bapak sudah menentukan pilihan itu hak bapa. Apalagi bapa bilang tadi bahwa bapa sudah di pak X. Saya hargai itu. Tapi kalau KTP ibu boleh juga diberikan kepada kami,” kata saya sedikit bergurau.

“Istri saya sudah meninggal setahun lalu.”

Saya melihat ke dinding dan melihat potret seorang perempuan dan saya bertanya: “ini ko bapa?”

“Iya itu mama.”

Ia semakin gelisah di tempat duduknya dan berkata, “baiklah bapa beta kasi KTP.”

Saya dan teman saya cuma berpandangan satu sama lain karena ia telah masuk ke kamarnya untuk mencari KTP. Beberapa menit kemudian ia telah keluar dengan KTPnya sambil berkata, “Kalau bukan bapa yang datang, kalau bukan bapa Min saya tidak kasi.”

“Bapa kenal ayah saya?”

“Siapa yang tidak kenal bapa Min? Semua yang sekarang rasanya hanya putar balik saja di banding apa yang pernah kami alami selama bapa Min menjadi camat. Tapi saya tidak perlu cerita banyak, karena cerita itu ada di hati banyak orang.”

Ia masih terus berbicara saat saya sedang memotret KTPnya. Setelah teman saya selesai mengisi formulir dan memberikan kepadanya untuk ditandatangani, ia berdoa untuk kami. Doanya bagus sekali dan setelah itu kami berciuman, berfoto bersama dan berpamitan.

Siang itu satu KTP rasanya seperti berjuta KTP buat saya. Ini bukan satu cerita yang unik. Saya telah berkali-kali menemui cerita yang sama di berbagai tempat, terutama di wilayah-wilayah yang dulunya merupakan wilayah kecamatan Kupang Barat dimana ayah saya pernah mengabdi sebagai Camat selama belasan tahun. Terima kasih pak yang memberikan KTP, terima kasih papa. Sore tadi saya menyempatkan diri mengunjungi pusara papa di Batuplat.

Bonik, Kupang, 10 Juni 2016

Tinggalkan pesan Anda di sini...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s